BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang Penelitian
Pengaruh era globalisasi kehidupan
masyarakat saat ini tidak dapat dihindarkan dan dirasakan akibatnya hampir
disemua Negara, terutama Negara berkembang. Pengaruh ini ada yang berdampak
positif antara lain, peningkatan kehidupan masyarakat internasional yang pesat
di bidang perekonomian pada umunya dan bidang perdagangan pada khususnya serta
dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan. Pengaruh yang berdampak negatif
antara lain meningkatnya tindak kriminal dalam suatu Negara ( Atmasasmita,
1995). Kriminalitas sendiri menurut bahasa adalah sama dengan kejahatan
(pelanggaran yang dapat di hukum) yaitu perkara kejahatan yang dapat dihukum menurut
undang-undang (Poerwadarminta, W.J.S.1978). Sedangkan pengertian kriminalitas
menurut istilah diartikan sebagai suatu kejahatan yang tergolong dalam
pelanggaran hukum positif (hukum yang berlaku dalam suatu Negara) (Zaiah
Daradjat, 1985). Sedangkan dampak yang akan terjadi apabila tindak kriminalitas
semakin hari semakin meningkat akan menyebabkan seseorang mengalami perubahan
dalam perilakunya salah satunya seperti kekhawatiran orang tua akan anaknya
yang masih bersekolah dimana dapat kita ketahui bahwa tindak kriminalitas
sering terjadi pada anak-anak yang berstatus masih pelajar karena anak-anak
yang masih pelajar pemikiran mereka cenderung masih kecil dan cenderung belum
bias berpikir panjang sehingga mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang ingin melakukan tindak kriminal.
Selain tindak kriminalitas hal-hal
yang perlu diperhatikan lagi adalah mengenai lalu lintas dimana semakin
berkembangnya suatu teknologi menyebabkan seseorang terlalu kurang waspada akan
lingkungan sekitar mereka, beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kecelakaan
adalah disebabkan oleh manusianya sendiri dimana mereka terlalu ceroboh saat
berkendara seperti menyalakan atau melihat handphone
saat berkendara, mengenakan alat pendengar suara seperti headset, menerobos
lalu lintas saat lampu menunjukkan warna merah dan ugal-ugalan di jalan serta
masih banyak lagi. Semua itu adalah faktor yang menyebabkan terjadinya
kecelakaan di jalan yang menyebabkan bertambahnya jumlah kecelakaan lalu lintas
tahun 2012.
Melihat berbagai kondisi sekarang ini
yang sering terjadi di berbagai daerah di Indonesia menyebabkan kesigapan
seorang Polisi amatlah diperhitungkan dikarenakan semakin meningkatnya berbagai
tindak kriminalitas sekaligus tingkat kecelakaan yang terjadi pada akhir-akhir
ini khususnya pada tahun 2012. Selain kesigapan dari Polisi, kesadaran dari
manusianya amatlah penting juga mengingat manusia yang mempunyai sifat semaunya
sendiri dan tidak menghiraukan akan lingkungan sekitar yang menyebabkan
terjadinya suatu tindak kriminalitas ataupun kecelakaan yang mencelakakan
dirinya. Semakin banyak penduduk di
suatu wilayah akan menyebabkan berbagai permasalahan yang akan terjadi seperti
tindak kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas di wilayah tersebut seperti
halnya di Surabaya, dimana dapat diketahui bahwa Surabaya merupakan kota yang
padat penduduknya setelah kota Jakarta sehingga berbagai tindak kriminalitas
dan kecelakaan sering terjadi di kota ini.
Dari permasalahan yang terjadi
timbulah sebuah ide untuk mengetahui bagaimana pola kecenderungan tindak
kriminalitas dan kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah Surabaya.
Dengan menggunakan analisis korespondensi diharapkan dapat mengetahui pola
kecenderungan dari setiap wilayah di Surabaya dengan jenis kriminalitas umum
dan tingkat kecelakaan yang terjadi.
1.2 Permasalahan
Penelitian
Berdasarkan uraian dari latar belakang di atas maka permasalahan yang akan
diambil dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana
karakteristik jenis kriminalitas dan tingkat kecelakaan lalu lintas berdasarkan
wilayah di Surabaya tahun 2012?
2.
Bagaimana
pola kecenderungan jenis kriminalitas dan tingkat kecelakaan lalu lintas
berdasarkan wilayah di Surabaya tahun
2012?
1.3 Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan mengenai jenis kriminalitas
dan tingkat kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah Surabaya tahun
2012 adalah sebagai berikut.
1.
Mengetahui
karakteristik jenis kriminalitas dan tingkat kecelakaan lalu lintas berdasarkan
wilayah di Surabaya tahun 2012.
2.
Mengetahui
pola kecenderungan jenis kriminalitas dan tingkat kecelakaan lalu lintas
berdasarkan wilayah di Surabaya tahun
2012.
1.4 Manfaat
Penelitian
Dapat mengetahui karakteristik dan
pola kecenderungan jenis kejahatan dan tingkat kecelakaan berdasarkan wilayah
di Surabaya tahun 2012. Manfaat
lainnya dapat memberikan
masukan kepada pihak Kepolisian dan Dinas Perhubungan untuk mengadakan tindakan
pengamatan dan pencegahan dalam mengatasi masalah kriminalitas di wilayah
Surabaya serta dapat di jadikan informasi untuk masyarakat agar lebih
berpartisipasi dan berhati-hati dalam masalah tersebut.
1.5 Batasan
Penelitian
Batasan masalah dalam penelitian ini data yang digunakan adalah data dari rekap kejadian
kriminalitas yang tercatat pada Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian
Daerah provinsi Jawa Timur 2012 serta rekap data dari Satuan Lalu Lintas
(Satlantas) Polrestabes Surabaya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Statistika Deskriptif
Statistika
Deskriptif adalah cabang ilmu statistika yang berkaitan dengan
prosedur-prosedur yang digunakan untuk menjelaskan karakteristik data secara
umum. Walpole (1995) mengatakan statistik
deskriptif merupakan metode-metode yang berkaitan dengan pengumpulan dan
penyajian suatu data sehingga memberikan informasi yang berguna. Penelitian statistika deskriptif dilakukan
untuk mengetahui karakteristik jenis kriminalitas dan tingkat kecelakaan berdasarkan
wilayah Surabaya yang nantinya akan di tampilkan dalam bentuk pie chart. Diagram lingkaran (pie chart) adalah diagram yang digunakan
untuk menyajikan data dengan skala pengukuran nominal atau ordinal, yang sering
juga dikatakan sebagai data kategorik (Walpole, 1995).
2.2 Penelitian Sebelumnya
Penelitian mengenai kriminalitas telah
dilakukan oleh Yati Jurusan Statistika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya (2007) mengenai Analisis Regresi Logistik Data
Kriminalitas Polres Jember.
Selain
itu penelitian mengenail kecelakaan
telah dilakukan kembali oleh Wahyu Wulan Fitriah, Muhammad Mashuri, dan
Irhamah Jurusan Statistika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya (2011) mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi keparahan korban kecelakaan lalu lintas di kota surabaya degan
pendekatan bagging regresi logistik ordinal.
2.3 Tabel Kontingensi
Tabel kontingensi atau yang disebut tabulasi
silang adalah tabel yang berisi data jumlah atau frekuensi atau beberapa
klasifikasi (kategori). Tabel kontingensi merupakan suatu metode statistik yang
menggambarkan dua atau lebih variabel secara simultan dan hasilnya ditampilkan
dalam bentuk tabel yang merefleksikan distribusi bersama dua atau lebih
variabel dengan jumlah kategori yang terbatas (Agresti, 2002).
Tabel 2.1 Bentuk
Umum Tabel Kontingensi Dua Arah
|
Var 1
|
Var 2
|
Total
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
..
|
p
|
||
|
1
|
X11
|
X12
|
X13
|
..
|
X1p
|
X1.
|
|
2
|
X21
|
X22
|
X23
|
..
|
X2p
|
X2.
|
|
3
|
X31
|
X32
|
X33
|
..
|
X3p
|
X3.
|
|
…
|
..
|
..
|
..
|
..
|
..
|
..
|
|
…
|
..
|
..
|
..
|
..
|
..
|
..
|
|
N
|
Xn1
|
Xn2
|
Xn3
|
..
|
Xnp
|
Xn.
|
|
Total
|
X.1
|
X.2
|
X.3
|
..
|
X.p
|
X..
|
Sumber :
Greenacre, 1984
dengan:
jumlah seluruh baris pada kolom ke-j :
(2.1)
jumlah seluruh kolom pada
baris ke-i :
(2.2)
sehingga jumlah seluruh sampel :
(2.3)
dimana i = 1, 2, ..., n j = 1, 2, ..., p
2.4 Uji Independensi
Pengujian
ini bertujuan untuk mengetahui apakah diantara variabel memiliki
hubungan atau tidak. Semakin banyak katagori dari variabel maka semakin banyak
pula sampel yang dibutuhkan karena tabel kontingensi mensyaratkan nilai harapan
yang bernilai kurang dari 5 maksimum ada 20% dari seluruh sel.
Uji
independensi ini digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel
(Agresti, 2002). Setiap level dari variabel-variabel tersebut harus memenuhi
syarat sebagai berikut.
1. Homogen
Homogen adalah dalam setiap sel
tersebut harus merupakan objek yang sama, sehingga jika data yang digunakan
heterogen tidak dapat dianalisis dengan tabel kontingensi.
2. Mutually exclusive dan mutually exhaustive
Mutually exclusive (saling asing) adalah antara level satu dengan level yang lain harus
saling bebas (independen). Mutually
exhaustive merupakan dekomposisi secara lengkap sampai pada unit terkecil,
sehingga jika mengklasifikasikan satu unsur, maka hanya dapat diklasifikasikan
dalam satu unit saja, atau dengan kata lain semua nilai harus masuk dalam
klasifikasi yang dilakukan.
3. Skala nominal dan skala ordinal
Skala nominal adalah skala yang
bersifat kategorikal atau klasifikasi, skala tersebut dapat berfungsi untuk membedakan
tetapi tidak merupakan hubungan kualitatif dan tingkatan. Contoh dari skala
nominal adalah laki-laki dan perempuan, cacat dan tidak cacat, baik dan jelek,
ya dan tidak. Skala ordinal adalah skala yang bersifat kategorikal atau
klasifikasi, skala tersebut dapat berfungsi untuk membedakan dan berfungsi
untuk menunjukkan adanya suatu urutan atau tingkatan. Contoh dari skala ordinal
yaitu sangat memuaskan, memuaskan, biasa, tidak memuaskan, sangat tidak
memuaskan dan sangat setuju, setuju, biasa, tidak setuju, sangat tidak setuju.
Langkah-langkah dari pengujian
independensi sebagai berikut.
Hipotesis :
H0 : Tidak ada hubungan antara kategorik 1
dan kategorik 2 (Independen).
H1 : Terdapat hubungan antara kategorik 1
dan kategorik 2 (Dependen).
Statistik Uji :
|
(2.4)
|
Dengan
(2.5)
Keterangan:
Statistik uji pada persamaan 2.4 dibandingkan dengan
distribusi
2 dengan db = (n-1)(p-1) yaitu
2hitung>
2(n-1)(p-1) atau dapat dilihat
melalui nilai P-value yang lebih kecil
dari α.
2.5 Analisis Korespondensi
Analisis korespondensi
adalah bagian analisis multivariat yang mempelajari hubungan antara dua atau
lebih variabel dengan memperagakan baris dan kolom secara serempak dari tabel
kontingensi dua arah dalam ruang vektor berdimensi rendah (dua). (Greenacre, 1984)
Analisis korespondensi
digunakan untuk mereduksi dimensi variable dan menggambarkan profil vektor
baris dan vektor kolom suatu matrik data dari tabel kontingensi. Hasil dari
analisis korespondensi biasanya mengikutkan dua dimensi terbaik untuk
mempresentasikan data, yang menjadi koordinat titik dan suatu ukuran jumlah
informasi yang ada dalam setiap dimensi yang biasa dinamakan inersia.
2.5.1 Matriks Data
Perhitungan dalam
Analisis Korespondensi dimulai dari X dengan elemennya yaitu xij yang tersusun pada tabel
frekuensi dua dimensi I x J. Dalam analisis ini mengambil I > J dan asumsi bahwa X memenuhi
kolom j.
Jika n adalah total
frekuensi data matriks X, yang
pertama dilakukan adalah menyusun matriks proporsi P = ( Pij ) dengan
membagi masing-masing elemen dari X dengan n.
Matriks P adalah matriks korespondensi
Kemudian mencari vektor
baris dan kolom r dan c, dan diagonal matriks Dr dan Dc dengan elemen r
dan c pada diagonal, sehingga :
Dimana 1J adalah vektor Jx1 dan 1I adalah vektor Ix1 matriks identitas dan
Dr =
diag(r1,r2,...,rI) dan Dc = diag(c1,c2,...,cJ) (2.8)
Dimana : ri adalah massa baris
ci adalah massa kolom
Menghitung matriks akar kuadrat :
Profil baris dan kolom matriks P
didapatkan dari vektor baris dan kolom matriks P dibagi dengan jumlahnya sendiri (Greenacre, 1984).
Matriks profil baris Matriks
profil kolom
Kedua profil, yaitu profil baris
dan profil kolom
ditulis secara
berturut-turut dalam baris R dan
kolom C.
2.5.2 Singular Value Decompotition
(SVD)
Penguraian nilai
singular / Singular Value Decomposition
(selanjutnya ditulis SVD) merupakan satu dari banyak cara pada algoritma
matriks dan terdiri dari konsep dekomposisi eigenvalue atau eigenvektor
(biasa disebut eigen dekomposisi). Nilai singular dicari untuk memperoleh
koordinat baris dan kolom sehingga hasil Analisis Korespondensi dapat
divisualisasikan dalam bentuk grafik. Banyak axis: d = min[(I – 1),(J –
1)].Banyak axis: d = min[(I – 1),(J – 1)]. (Greenacre, 1984)
Analisis
korespondensi dapat dirumuskan dengan kuadrat terkecil terboboti.
dimana P – rc’ adalah nilai singular dekomposisi (SVD),
adalah nilai singular,
vektor uk Ix1 dan vektor vk Jx1 merupakan singular
vektor korespondensi matriks
yang be-rukuran IxJ,
dan rank K>1.
Koordinat profil baris :
Koordinat profil kolom :
2.5.3 Dekomposisi Inersia
Nilai inersia menunjukkan
kontribusi dari baris ke-i pada
inersia total. Total inersia adalah ukuran variasi data dan ditentukan dengan
jumlah kuadrat terboboti
|
(2.14)
|
dimana
adalah nilai singular
dari nilai singular dekomposisi matriks
. k adalah
banyaknya solusi dimensi sehingga k = 1,2 (Johnson, 2002).
Nilai inersia
Inersia baris (Greenacre,1984):
Inersia kolom:
|
(2.16)
|
Kontribusi relatif atau
korelasi baris ke-i atau kolom ke-j dengan komponen k adalah kontribusi axis ke inersia
baris ke-i atau kolom ke-j, dinyatakan dalam persen inersia baris
ke-i atau kolom ke-j.
Korelasi axis ke k dan baris ke i =
Korelasi axis ke k dan kolom ke j=
dimana
adalah koordinat profil baris ke i pada axis
ke k,
adalah koordinat profil
kolom ke j pada axis ke k.
Kontribusi baris ke i atau kolom ke j ke axis k (kontribusi mutlak),
dinyatakan dengan persen inersia axis ke k.
Kontribusi baris ke i dan axis ke k =
Kontribusi kolom ke j dan axis ke k =
2.5.4 Jarak Chi-square
total
adalah
dimana elemen ke j dari
dapat
dituliskan sebagai berikut :
Maka
jarak Chi-Square dapat dicari dengan rumus sebagai berikut:
atau
Dimana E (frek)ij = ricjn..
Keterangan
E
(frek)ij = Ekspektasi frekuensi
ri = massa baris ke-i
cj = massa kolom ke-j
n.. = Jumlah pengamatan
2.5.5 Jarak Euclidian
Ukuran jarak digunakan ketika terdapat
dua objek yang berada pada titik yang berbeda, jarak antar objek sering juga
disebut dengan ukuran kemiripan atau similarity. jarak istilah informal sering
digunakan untuk mengukur perbedaan yang berasal dari objek untuk menggambarkan
karakteristik dan pola kecenderungan. Salah satu cara untuk mengetahui ukuran
terebut yaitu dengan menggunakan persamaan jarak euclidian. (Greenacre, 2007)
Jika
nilai F adalah nilai dari kordinat
titik pada profil dan nilai G adalah
nilai kordinat dari titik pada kolom, serta nilai k adalah banyaknya solusi dimensi, maka dapat diformulasikan
sebagai berikut.
|
|
|
|
|
|
|
|
(2.23)
Dimana
nilai
adalah jarak euclidian antata titik kordinat profil
baris dengan titik kordinat profil kolom. Nilai Fi adalah nilai kordinat profil baris pada dimensi ke-i dan nilai Gi adalah nilai kordinat profil kolom pada dimensi ke-i. (Greenacre, 2007)
2.6 Pengantar Tentang Kriminalitas
Kriminalistik/kriminologis disebut
dengan istilah “kejahatan”. Oleh karena itu, dari sekian banyak batasan
kejahatan,memiliki definisi yang dirumuskan oleh SEELIG, yang menyebutkan kejahatan adalah suatu tingkah laku atau
perbuatan manusia yang salah baik secra rohani maupun secara jasmani. Agar
definisi ini dapat memberi arti bagi kehidupan, pokok-pokok berikut ini yang
harus dijelaskan.meliputi objek dari kriminalistik, tujuan dari kriminalistik,
metode kriminalistik, dan batas- batas kriminalistik. (Juergen, 1992).
2.6.1
Pengertian
Kriminalitas
Seorang kriminal adalah seseorang yang
melakukan sesuatu yang melanggar hokum atau sebuah kasus kejahatan. Biasanya
yang dianggap kriminal adalah seorang pencuri atau maling. Ilmu yang
mempelajari tentang kriminalitas disebut kriminologi. Kriminologi adalah ilmu
pengetahuan yang mengkhususkan perhatian pada pengkajian kasus kejahatan,
meliputi pengkajian statistik kejahatan, psikologi perilaku kejahatan,kondidsi
sosial dan kejahatan yang tidak melihat korban. (Juergen, 1992).
2.6.2 Jenis–Jenis Kriminal
Pembunuhan
adalah kasus untuk menghilangkan nyawa seseorang dengan cara yang melanggar
hukum. Pembunuhan rahasia adalah suatu usaha pembunuhan terhadap orang-orang
penting yang biasanya dilakukan secara diam-diam.Pemerkosaan adalah suatu
tindakan kriminal dimana korban dipaksa
untuk melakukan aktivitas seksual. (Juergen, 1992). Perampokan adalah
suatu tindak kriminal dimana sang pelaku perampok mengambil kepemilikan seseorang
melalui tindakan kasar dan intimidasi dan dibedakan dari pencurian.
Penganiayaan adalah barang siapa dengan sengaja memegang seseorang dengan
kekerasan dan melemparkannya sehingga menyebabkan sakit atau luka.
2.6.3 Pengertian Lalu Lintas
Lintas merupakan gabungan dua kata
yang masing-masing dapat diartikan tersendiri. Menurut Djajoesman (1976) Lalu
mengemukakan bahwa secara harfia lalu lintas diartikan sebagai gerak (bolak
balik) manusia atau barang dari satu tempat ketempat lainnya dengan menggunakan
sarana jalan umum.
Menurut poerwadarminta dalam kamus umum bahasa Indonesia (1993) menyatakan bahwa lalu lintas adalah berjalan bolak balik, hilir mudik dan perihal perjalanan di jalan dan sebagainya serta berhubungan antara sebuah tempat dengan tempat lainnya. Dengan demikian lalu lintas adalah merupakan gerak lintas manusia dan atau barang dengan menggunakan barang atau ruang di darat, baik dengan alat gerak ataupun kegiatan lalu lintas din jalan yang dapat menimbulkan permasalahan seperti terjadinya kecelakaan dan kemacetan lalu lintas.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan lalu lintas adalah kegiatan kendaraan bermotor dengan menggunakan jalan raya sebagai jalur lintas umum sehari-hari. Lalu lintas identik dengan jalur kendaraan bermotor yang ramai yang menjadi jalur kebiutuhan masyarakat umum. Oleh kerena itu lalu lintas selalu dentik pula dengan penerapan tata tertib bermotor dalam menggunakan jalan raya.
Dengan demikian maka pelanggaran lalu lintas adalah pengabaian terhadap tata tertib lalu lintas yang dilakukan oleh pengguna kendaraan bermotor yang menimbulkan kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan lainnya baik hilangnya nyawa maupun luka-luka. Sedangkan kecelakaan sendiri dibagi menjadi empat tingkatan yaitu kecelakaan ringan, kecelakaan sedang, kecelakaan berat dan meninggal dunia.
Menurut poerwadarminta dalam kamus umum bahasa Indonesia (1993) menyatakan bahwa lalu lintas adalah berjalan bolak balik, hilir mudik dan perihal perjalanan di jalan dan sebagainya serta berhubungan antara sebuah tempat dengan tempat lainnya. Dengan demikian lalu lintas adalah merupakan gerak lintas manusia dan atau barang dengan menggunakan barang atau ruang di darat, baik dengan alat gerak ataupun kegiatan lalu lintas din jalan yang dapat menimbulkan permasalahan seperti terjadinya kecelakaan dan kemacetan lalu lintas.
Berdasarkan uraian diatas, maka dapat disimpulkan lalu lintas adalah kegiatan kendaraan bermotor dengan menggunakan jalan raya sebagai jalur lintas umum sehari-hari. Lalu lintas identik dengan jalur kendaraan bermotor yang ramai yang menjadi jalur kebiutuhan masyarakat umum. Oleh kerena itu lalu lintas selalu dentik pula dengan penerapan tata tertib bermotor dalam menggunakan jalan raya.
Dengan demikian maka pelanggaran lalu lintas adalah pengabaian terhadap tata tertib lalu lintas yang dilakukan oleh pengguna kendaraan bermotor yang menimbulkan kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan lainnya baik hilangnya nyawa maupun luka-luka. Sedangkan kecelakaan sendiri dibagi menjadi empat tingkatan yaitu kecelakaan ringan, kecelakaan sedang, kecelakaan berat dan meninggal dunia.
1. Kecelakaan ringan merupakan
kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan kendaraan atau barang.
2. Kecelakaan sedang merupakan
kecelakaan yang mengakibatkan luka ringan dan kerusakan kendaraan atau barang,
pengertian luka ringan adalah luka yang mengakibatkan korban menderita sakit
yang tidak memerlukan perawatan inap di rumah sakit atau selain yang
diklasifikasikan dalam luka berat.
3. Kecelakaan berat merupakan kecelakaan
yang mengakibatkan korban meninggal dunia atau luka berat. Pengertian luka
berat sendiri adalah
a) Jatuh sakit dan tidak ada harapan
sembuh sama sekali atau menimbulkan bahaya maut.
b) Tidak mampu terus-menerus untuk
menjalankan tugas jabatan atau pekerjaan.
c) Kehilangan salah satu pancaindra.
d) Menderita cacat berat atau lumpuh.
e) Terganggu daya piker selama empat
minggu lebih.
f) Gugur atau matinya kandungan seorang
perempuan.
g) Luka yang membutuhkan perawatan di
rumah sakit lebih dari tiga puluh hari.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Sumber Data
Sumber data yang digunakan adalah data
sekunder berupa data jenis
kriminalitas yang tercatat di Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Provinsi Jawa
Timur secara kumulatif pada tahun 2012 serta data tingkat kecelakaan lalu lintas yang tercatat dalam
Satuan Lalu Lintas (Satlantas) pada tahun 2012.
3.2 Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah data jenis kriminalitas yang tercatat di Direktorat
Reserse Kriminal Umum Kepolisian
Daerah Provinsi Jawa Timur secara kumulatif
pada tahun 2012 serta
data tingkat kecelakaan lalu lintas yang tercatat dalam Satuan Lalu Lintas
(Satlantas) pada tahun 2012 berdasarkan wilayah Surabaya.
3.3
Identifikasi Variabel
Beberapa
variabel dalam penelitian ini berupa variabel jenis kriminalitas yang terdiri
dari pencurian kendaraan bermotor (Curanmor), Perampokan, Penipuan, Perjudian,
Pemerkosaan, Pembunuhan, Penyelundupan, pencopetan/penjambretan dan lainnya
yang terdiri dari penggelapan, kekerasan verbal (mis. Fitnah, pencemaran nama
baik), kekerasan fisik (mis. Penganiayaan) sedangkan untuk variabel
tingkat kecelakaan lalu lintas terdiri
dari kecelakaan ringan, , kecelakaan Berat dan Meninggal Dunia yang telah terjadi pada tahun 2012. Mengingat
luasnya wilayah Surabaya maka pemetaan dibagi menjadi lima wilayah yang terdiri
dari Surabaya Pusat, Surabaya Timur, Surabaya Barat, Surabaya Utara dan
Surabaya Selatan, untuk lebih jelasnya dapat kita lihat pada tabel 3.1, 3.2 dan
3.3 berikut ini :
Tabel 3.1 Variabel wilayah
|
No
|
Wilayah
|
|
1
|
Surabaya Pusat
|
|
2
|
Surabaya Timur
|
|
3
|
Surabaya Barat
|
|
4
|
Surabaya Utara
|
|
5
|
Surabaya Selatan
|
|
|
|
Tabel 3.2 Jenis
Kriminalitas
|
No
|
Jenis Kriminalitas
|
|
1
|
Pencurian Kendaraan
Bermotor (Curanmor)
|
|
2
|
Perampokan
|
|
3
|
Penipuan
|
|
4
|
Perjuadian
|
|
5
|
Pemerkosaan
|
|
6
|
Pembunuhan
|
|
7
|
Penyelundupan
|
|
8
|
Pencopetan/Penjambretan
|
|
9
|
Lainnya
|
Tabel 3.3
Tingkat Kecelakaan Lalu Lintas
|
No
|
Tingkat Kecelakaan
|
|
1
|
Kecelakaan Ringan
|
|
2
|
Kecelakaan Berat
|
|
3
|
Meninggal Dunia
|
3.4 Analisis
Data
Langkah-langkah
dalam menganalisis data analisis sebagai berikut.
1. Melakukan
analisis Statistika deskriptif berupa prosentase jenis kriminalitas dan tingkat
kecelakaan berdasarkan wilayah di Surabaya pada tahun 2012 dengan menampilkan
bar chart pada tiap-tiap prosentase yang dihasilkan.
2. Melakukan
analisis independensi untuk mengetahui hubungan antar variabel.
3. Membentuk
tabel kontingensi, kemudian menentukan profil baris dan kolom setelah itu
dilakukan penguraian nilai singular untuk mengetahui nilai variabilitas data
yang dijelaskan oleh setiap dimensi atau faktor yang dihasilkan.
4. Melakukan
analisis korespondensi untuk mengetahui pengelompokkan jenis kriminalitas dan
tingkat kecelakaan berdasarkan wilayah di Surabaya tahun 2012.
5. Menyusun
matrik korespondensi atau matrik proporsi (P) dengan membagi masing-masing
elemen pada baris dan kolom dengan total frekuensi (n).
a) Menyusun
matrik profil baris dan profil kolom.
b) Menetukan
nilai singular dekomposisi (SVD).
c) Menghitung
profil baris dan profil kolom
d) Menentukan
nilai inersia.
e) Menentukan
nilai kontribusi relative dan kontribusi mutlak.
f) Menentukan
nilai similarity atau jarak chi-square
g) Visualisasi
menggunakan plot.
6. Interpretasi
analisis korespondensi terdiri dari :
a) Interpretasi
profil row memberikan proporsi dari masing-masing kategori baris dengan kolom.
b) Interpretasi
analisis tabel kontingensi untuk menunjukkan dekomposisi dari inersia total.
c) Interpretasi
kontribusi row untuk penafsiran komponen-komponen yang di analisis.
4. Jadwal
Penelitian
Rencana penelitian Tugas Akhir dilaksanakan mulai
bulan Pebruari sampai dengan bulan Juni. Alokasi waktu penelitian yang
terperinci dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Jadwal Kegiatan Penelitian Tugas Akhir
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan ke-1
|
Bulan ke-2
|
Bulan ke-3
|
Bulan ke-4
|
Bulan ke-5
|
|||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Studi literatur dan
referensi
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
2
|
Identifikasi
permasalahan
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
3
|
Pembimbingan dan evaluasi hasil penelitian dengan dosen pembimbing
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
4
|
Penentuan variabel
penelitian
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
5
|
Pengambilan data
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
6
|
Pengolahan data dengan Software
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
7
|
Pembuatan laporan tugas akhir
|
|
|
|
|
||||||||||||||||
|
8
|
Ujian hasil penelitian
oleh dosen penguji
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Pada
bab ini akan dibahas mengenai hasil analisis yang telah dilakukan untuk
menyelesaikan permasalahan dalam penelitian ini yaitu mengetahui karakteristik tingkat
kecelakaan lalu lintas dan kriminalitas di wilayah Surabaya tahun 2012 serta
mengetahui bagaimana pola kecenderungan tingkat kecelakaan lalu lintas dan
kriminalitas di wilayah Surabaya tahun
2012 dengan menggunakan analisis
korespondensi.
4.1 Karakteristik Tingkat Kecelakaan
Lalu Lintas di Wilayah Surabaya Tahun 2012
Gambar 4.1 Tingkat
Kecelakaan Berdasarkan Total Setiap Wilayah
Gambar 4.1 dapat
menjelaskan bahwa dari kelima wilayah tersebut, wilayah Surabaya Selatan yang
memiliki prosentase sangat besar dalam tingkat kecelakaan lalu lintas. Nilai
prosentase yang ditunjukkan masing-masing untuk meninggal dunia sebesar 31%, luka
berat sebesar 34% dan luka ringan sebesar 31%. Dari ketiga tingkat kecelakaan
lalu lintas tersebut untuk wilayah Surabaya selatan yang begitu sangat
mendominasi dalam prosentase tertinggi adalah luka berat dengan prosentasenya
sebesar 34%.
4.2 Karakteristik Kriminalitas di
Wilayah Surabaya Tahun 2012
Gambar 4.2 Kriminalitas
Berdasarkan Total Setiap Wilayah
Gambar 4.2 dapat
menjelaskan bahwa dari kelima wilayah tersebut, wilayah Surabaya Selatan
memiliki prosentase tertinggi terjadinya curanmor yaitu sebesar 25% sedangkan
yang terendah yaitu Surabaya Pusat sebesar 15%, wilayah Surabaya Timur dan
Surabaya Selatan memiliki prosentase tertinggi yaitu sebesar 26% sedangkan yang
terendah yaitu Surabaya Pusat sebesar 13%, wilayah Surabaya Timur memiliki
prosentase tertinggi terjadinya penipuan yaitu sebesar 27% sedangkan yang
terendah yaitu wilayah Surabaya Pusat yaitu sebesar 14%, wilayah Surabaya timur
memiliki prosentase tertinggi terjadinya perjudian yaitu sebesar 28% sedangkan
yang terendah yaitu wilayah Surabaya Barat sebesar 14%, wilayah Surabaya Pusat
memiliki prosentase tertinggi terjadinya pemerkosaan yaitu sebesar 25%
sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Barat dan Selatan yaitu sebesar
16%, wilayah Surabaya Selatan memiliki prosentase tertinggi terjadinya
pembunuhan yaitu sebesar 27% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya
Pusat yaitu sebesar 11%, wilayah Surabaya Timur memiliki prosentase tertinggi
terjadinya penyelundupan yaitu sebesar 29% sedangkan yang terendah yaitu
wilayah Surabaya Barat yaitu sebesar 11%, wilayah Surabaya Selatan memiliki
prosentase tertinggi terjadinya pencopetan/penjambretan yaitu sebesar 25%
sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Pusat yaitu sebesar 14% dan
terakhir wilayah Surabaya Timur memiliki prosentase tertinggi terjadinya
lainnya yaitu sebesar 24% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Pusat
dan Utara yaitu sebesar 17%.
4.3 Uji Independensi Antara Wilayah Dengan Tingkat Kecelakaan
Sebelum melakukan análisis korespondensi, terlebih
dahulu melakukan análisis hubungan atau biasa disebut uji Chi-Square pada seluruh variabel yaitu :
Hipotesis :
H0 : Wilayah dengan tingkat kecelakaan Independen.
H1 : Wilayah dengan tingkat kecelakaan bersifat
Dependen.
α : 0.05
Statistik Uji yang digunakan sesuai pada persamaan 2.4. Hasil statistik uji
adalah sebesar 19,001
Daerah Kritis : Tolak H0
jika
atau
P-value
< α
Keputusan : Tolak H0 karena
atau P-value = 0,015 < α = 0,05
Kesimpulan : ada
hubungan antara wilayah
dengan tingkat kecelakaan.
4.4 Uji Independensi Antara Wilayah Dengan Kriminalitas
Sebelum melakukan análisis korespondensi, terlebih
dahulu melakukan análisis hubungan atau biasa disebut uji Chi-Square pada seluruh variabel yaitu :
Hipotesis :
H0 : Wilayah dengan Kriminalitas Independen.
H1 : Wilayah dengan Kriminalitas bersifat Dependen.
α : 0.05
Statistik Uji yang digunakan sesuai pada persamaan 2.4. Hasil statistik uji
adalah sebesar 57,499
Daerah Kritis : Tolak H0
jika
atau
P-value
< α
Keputusan : Tolak H0 karena
atau P-value = 0,015 < α = 0,05
Kesimpulan : ada
hubungan antara wilayah
dengan tingkat kecelakaan.
4.5 Analisis
Korespondensi untuk Tingkat Kecelakaan
Pola kecenderungan pengguna tingkat
kecelakaan yang berasal dari ke lima wilayah dapat di lakukan dengan metode
analisis korespondensi sebagai berikut :
Tabel 4.1 Inersia
|
Dimensi
|
Inersia
|
Proporsi Inersia
|
|
|
Nilai Proporsi
|
Kumulatif
|
||
|
1
|
0,008
|
0,718
|
0,718
|
|
2
|
0,003
|
0,282
|
1
|
|
Total
|
0,011
|
1
|
1
|
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai
inersia yang cukup besar berada pada dimensi 1. Nilai inersia pada dimensi 1
sebesar 0,008
dengan nilai proporsi sebesar 0,718 yang artinya bahwa dimensi 1 mampu menerangkan keragaman
data sebesar 71,8%. Pada dimensi 2, nilai inersia sebesar 0,003 dengan nilai proporsi sebesar 0,282 yang berarti dimensi 2 mampu
menerangkan keragaman data sebesar 28,2%. Sehingga total keragaman data yang
mampu dijelaskan oleh dimensi 1 dan 2 adalah sebesar 100%.
Pada pengelompokan Wilayah kedalam dimensi didasarkan pada
nilai dari kontribusi mutlak dan kontribus relatif yang dapat ditunjukan pada
tabel 4.2. Angka yang
dicetak tebal adalah nilai yang terbesar pada dimensi 1 dan dimensi 2 yang menentukan wilayah masuk kedalam
dimensi. Dimensi 1 dan
dimensi 2 pada pada nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama serta
nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik, nilai yang
lebih besar tersebut berada pada dimensi yang bersesuaian antara pada nilai proporsi keragaman dari titik
tehadap inersia sumbu utama dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama
terhadap inersia titik.
Tabel 4.2 Nilai kontribusi Mutlak dan Kontribusi Relatif wilayah
|
wilayah
|
Mass
|
Inersia
|
Mutlak
|
Relatif
|
||
|
Dim 1
|
Dim 2
|
Dim 1
|
Dim 2
|
|||
|
Selatan
|
0,319
|
0,001
|
0,017
|
0,223
|
0,159
|
0,841
|
|
Barat
|
0,231
|
0,001
|
0,092
|
0,028
|
0,895
|
0,105
|
|
Timur
|
0,174
|
0,000
|
0,031
|
0,024
|
0,767
|
0,233
|
|
Pusat
|
0,153
|
0,003
|
0,148
|
0,654
|
0,365
|
0,635
|
|
Utara
|
0,123
|
0,006
|
0,713
|
0,072
|
0,962
|
0,038
|
|
Total
|
1
|
0,011
|
1
|
1
|
|
|
Pada
Tabel 4.2 diketahui bahwa benua yang masuk dalam dimensi 1 dan dimensi 2
berdasarkan nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama dan
nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik, dengan
keterangan sebagai berikut :
1. Wilayah Selatan dengan nilai proporsi
keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama sebesar 22,3% dan nilai proporsi keragaman dari
sumbu utama terhadap inersia wilayah Selatan sebesar 84,1%.
2. Wilayah Barat dengan nilai proporsi
keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama sebesar 9,2% dan nilai proporsi keragaman dari
sumbu utama terhadap inersia wilayah Barat sebesar 89,5%.
3. Wilayah Timur dengan nilai proporsi
keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama sebesar 3,1% dan nilai proporsi keragaman dari
sumbu utama terhadap inersia wilayah Timur sebesar 76,7%
4. Wilayah Pusat dengan nilai proporsi
keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama sebesar 65,4% dan nilai
proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia wilayah Pusat sebesar 63,5%
5. Wilayah Utara dengan nilai proporsi
keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama sebesar 71,3% dan nilai
proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia wilayah Utara sebesar 96,2%
Pengelompok tingkat kecelakaan akan
masuk kedalam dimensi 1 atau dimensi 2 berdasarkan nilai yang lebih besar
antara dimensi 1 atau dimensi 2 pada nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu
utama dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik serta nilai yang
lebih besar tersebut berada pada dimensi yang bersesuaian. Angka yang dicetak
tebal adalah nilai yang terbesar di antara dimensi 1 dan dimensi 2 yang
menentukan pengelompokan tingkat kecelakaan masuk
kedalam dimensi.
Tabel 4.3 Nilai Kontribusi Mutlak dan
Kontribusi Relatif Tingkat Kecelakaan
|
Tingkat kecelakaan
|
Mass
|
Inersia
|
Mutlak
|
Relatif
|
||
|
Dim 1
|
Dim 2
|
Dim 1
|
Dim 2
|
|||
|
Luka Ringan
|
0,458
|
0,004
|
0,488
|
0,054
|
0,958
|
0,042
|
|
Luka Berat
|
0,346
|
0,002
|
0,104
|
0,550
|
0,324
|
0,676
|
|
Meninggal Dunia
|
0,196
|
0,004
|
0,408
|
0,395
|
0,724
|
0,276
|
|
Total
|
1.000
|
0,011
|
1.000
|
1.000
|
|
|
Tabel
4.3 menunjukkan ciri dimensi 1 dan dimensi 2 berdasarkan nilai proporsi
keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama dan nilai proporsi keragaman
dari sumbu utama terhadap inersia titik pada pengelompokan tingkat kecelakaan,
dengan keterangan sebagi berikut :
a. Dimensi 1 dicirikan oleh
1. Luka Ringan dengan nilai proporsi
keragaman dari tingkat kecelakaan terhadap inersia sumbu utama sebesar 48,8%
dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia tingkat
kecelakaan sebesar 95,8%
2. Meninggal Dunia dengan nilai proporsi
keragaman dari tingkat kecelakaan terhadap inersia sumbu utama sebesar 40,8%
dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia tingkat
kecelakaan sebesar 72,4%
b. Dimensi 2 dicirikan oleh
1. Luka Berat dengan nilai proporsi
keragaman dari tingkat kecelakaan terhadap inersia sumbu utama sebesar 55% dan
nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia tingkat kecelakaan sebesar
67,6%.
Untuk mengetahui
kecenderungan dari tingkat kecelakaan dengan wilayah di Surabaya berdasarkan
jarak terdekat antar titik kriteria variabel dapat dilihat pada Gambar 4.3
Gambar 4.3 Plot Korespondensi Tingkat Kecelakaan
terhadap Wilayah
Gambar 4.3 dapat menjelaskan pada
titik wilayah Surabaya Pusat cenderung berdekatan dengan titik meninggal dunia,
sedangkan untuk titik wilayah Suarabaya Selatan, Surabaya Timur dan Surabaya Barat
cenderung berdekatan dengan titik luka berat. Pada titik wilayah utara memiliki
kecenderung berdekatan dengan titik luka ringan.
Pada pengelompokan antara
tingkat kecelakaan dan wilayah Surabaya dapat diketahui jarak antar titik
koordinat didalam gambar 4.5, untuk membuktikan kebenaran jarak yang cenderung
mendekati dari variabel visa dan wilayah dapat dilihat pada tabel 4.4
Tabel 4.4 Jarak Euclid antar variabel tingkat kecelakaan dengan wilayah
|
Wilayah
|
Tingkat Kecelakaan
|
||
|
Meningal Dunia
|
Luka Berat
|
Luka Ringan
|
|
|
Surabaya Pusat
|
0.14
|
0.03
|
0.12
|
|
Surabaya Timur
|
0.23
|
0.12
|
0.04
|
|
Surabaya Barat
|
0.28
|
0.17
|
0.02
|
|
Surabaya Utara
|
0.31
|
0.19
|
0.04
|
|
Surabaya Selatan
|
0.34
|
0.22
|
0.07
|
Tabel 4.4 menunjukkan
nilai yang mendekati nilai nol atau kurang dari 1 memiliki jarak yg semakin
dekat. Pada wilayah Surabaya Pusat dengan luka berat memiliki jarak sebesar 0,03,
wilayah Surabaya Timur, Surabaya Barat dan Surabaya Utara memiliki jarak
masing-masing sebesar 0,04, 0,02 dan 0,04 dan untuk wilayah Surabaya Selatan
dengan luka ringan memiliki jarak sebesar 0,07.
4.5 Analisis
Korespondensi untuk Kriminalitas
Pola kecenderungan kriminalitas yang
berasal dari ke lima wilayah dapat di lakukan dengan metode analisis korespondensi
sebagai berikut
Tabel 4.5 Proporsi Inersia
|
Dimensi
|
Inersia
|
Proporsi Inersia
|
|
|
Nilai Proporsi
|
Kumulatif
|
||
|
1
|
0,008
|
0,491
|
0,718
|
|
2
|
0,006
|
0,462
|
0,953
|
|
3
|
0,001
|
0,034
|
0,987
|
|
4
|
0,000
|
0,013
|
1
|
|
Total
|
0,015
|
1
|
1
|
Tabel 4.1 menunjukkan bahwa nilai
inersia yang cukup besar berada pada dimensi 1. Nilai inersia pada dimensi 1
sebesar 0,008
dengan nilai proporsi sebesar 0,491 yang artinya bahwa dimensi 1 mampu menerangkan keragaman
data sebesar 49,1%. Pada dimensi 2, nilai inersia sebesar 0,007 dengan nilai proporsi sebesar 0,462 yang berarti dimensi 2 mampu
menerangkan keragaman data sebesar 46,2%. Sehingga total keragaman data yang
mampu dijelaskan oleh dimensi 1 dan 2 adalah sebesar 95,3%.
Pada pengelompokan Wilayah kedalam dimensi didasarkan pada
nilai dari kontribusi mutlak dan kontribus relatif yang dapat ditunjukan pada
tabel 4.5. Angka yang
dicetak tebal adalah nilai yang terbesar pada dimensi 1 dan dimensi 2 yang menentukan wilayah masuk kedalam
dimensi. Dimensi 1 dan
dimensi 2 pada pada nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama serta
nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik, nilai yang
lebih besar tersebut berada pada dimensi yang bersesuaian antara pada nilai proporsi keragaman dari titik
tehadap inersia sumbu utama dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama
terhadap inersia titik.
Tabel 4.6 Nilai kontribusi Mutlak dan Kontribusi Relatif wilayah
|
wilayah
|
Mass
|
Inersia
|
Mutlak
|
Relatif
|
||
|
Dim 1
|
Dim 2
|
Dim 1
|
Dim 2
|
|||
|
Timur
|
0,251
|
0,002
|
0,017
|
0,179
|
0,077
|
0,752
|
|
Selatan
|
0,240
|
0,002
|
0,271
|
0,046
|
0,818
|
0,131
|
|
Utara
|
0,182
|
0,001
|
0,000
|
0,068
|
0,001
|
0,692
|
|
Barat
|
0,174
|
0,005
|
0,088
|
0,652
|
0,124
|
0,869
|
|
Pusat
|
0,154
|
0,005
|
0,624
|
0,055
|
0,914
|
0,075
|
|
Total
|
1
|
0,015
|
1
|
1
|
|
|
Pada
Tabel 4.6 diketahui bahwa benua yang masuk dalam dimensi 1 dan dimensi 2
berdasarkan nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama dan
nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik, dengan
keterangan sebagai berikut :
1.
Wilayah
Timur dengan nilai proporsi keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama
sebesar 17,9% dan nilai proporsi keragaman dari
sumbu utama terhadap inersia wilayah Selatan sebesar 75,2%.
2.
Wilayah
Selatan dengan nilai proporsi keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu
utama sebesar 27,1% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap
inersia wilayah Barat sebesar 81,8%.
3.
Wilayah
Utara dengan nilai proporsi keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama
sebesar 6,8% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
wilayah Timur sebesar 69,2%
4.
Wilayah
Barat dengan nilai proporsi keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama
sebesar 65,2% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
wilayah Pusat sebesar 86,9%.
5.
Wilayah
Pusat dengan nilai proporsi keragaman dari wilayah terhadap inersia sumbu utama
sebesar 62,4% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
wilayah Utara sebesar 91,4%
Pengelompok kriminalitas akan masuk
kedalam dimensi 1 atau dimensi 2 berdasarkan nilai yang lebih besar antara
dimensi 1 atau dimensi 2 pada nilai proporsi keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama dan nilai
proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia titik serta nilai yang
lebih besar tersebut berada pada dimensi yang bersesuaian. Angka yang dicetak
tebal adalah nilai yang terbesar di antara dimensi 1 dan dimensi 2 yang
menentukan pengelompokan kriminalitas masuk kedalam
dimensi.
Tabel 4.7 Nilai Kontribusi Mutlak dan
Kontribusi Relatif kriminalitas
|
Kriminalitas
|
Mass
|
Inersia
|
Mutlak
|
Relatif
|
||
|
Dim 1
|
Dim 2
|
Dim 1
|
Dim 2
|
|||
|
Curanmor
|
0,200
|
0,001
|
0,015
|
0,089
|
0,134
|
0,744
|
|
Perampokan
|
0,147
|
0,001
|
0,094
|
0,046
|
0,657
|
0,302
|
|
Penipuan
|
0,131
|
0,001
|
0,004
|
0,092
|
0,039
|
0,940
|
|
Perjudian
|
0,104
|
0,001
|
0,023
|
0,104
|
0,182
|
0,771
|
|
Pemerkosaan
|
0,048
|
0,004
|
0,530
|
0,036
|
0,929
|
0,059
|
|
Pembunuhan
|
0,051
|
0,001
|
0,064
|
0,095
|
0,348
|
0,485
|
|
Penyelundupan
|
0,062
|
0,003
|
0,188
|
0,172
|
0,534
|
0,461
|
|
Pencopetan
|
0,150
|
0,001
|
0,070
|
0,116
|
0,382
|
0,600
|
|
Lainnya
|
0,106
|
0,002
|
0,013
|
0,249
|
0,046
|
0,862
|
|
Total
|
1
|
0,015
|
1
|
1
|
|
|
Tabel
4.7 menunjukkan ciri dimensi 1 dan dimensi 2 berdasarkan nilai proporsi
keragaman dari titik tehadap inersia sumbu utama dan nilai proporsi keragaman
dari sumbu utama terhadap inersia titik pada pengelompokan tingkat kecelakaan,
dengan keterangan sebagi berikut :
c. Dimensi 1 dicirikan oleh
1.
Perampokan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 9,4% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia kriminalitas
sebesar 65,7%
2.
Pemerkosaan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 53% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia kriminalitas
sebesar 92,9%
3.
Penyelundupan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 18,85 dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 53,4%
d. Dimensi 2 dicirikan oleh
1.
Curanmor
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 8,9% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia kriminalitas
sebesar 74,4%.
2.
Penipuan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 9,2% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 94%.
3.
Perjudian
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 10,4% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 77,1%.
4.
Pembunuhan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 9,5% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 48,5%.
5.
Pencopetan
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 11,6% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 60%.
6.
Lainnya
dengan nilai proporsi keragaman dari kriminalitas terhadap inersia sumbu utama
sebesar 24,9% dan nilai proporsi keragaman dari sumbu utama terhadap inersia
kriminalitas sebesar 86,2%.
Untuk mengetahui
kecenderungan dari tingkat kecelakaan dengan wilayah di Surabaya berdasarkan
jarak terdekat antar titik kriteria variabel dapat dilihat pada Gambar 4.6
Gambar 4.4 dapat menjelaskan pada
titik wilayah Surabaya Pusat cenderung berdekatan dengan titik Pemerkosaan,
sedangkan untuk titik wilayah Surabaya Selatan cenderung berdekatan dengan
titik perampokan, penipuan dan pembunuhan. Pada titik wilayah Surabaya Utara
dan wilayah Surabaya Timur memiliki kecenderungan berdekatan dengan titik
perjudian dan penyelundupan. Pada titik wilayah Surabaya Barat memiliki
kecenderungan berdekatan dengan titik lainnya, pencopetan dan curanmor.
Pada pengelompokan antara
kriminalitas dan wilayah Surabaya dapat diketahui jarak antar titik koordinat
didalam gambar 4.6, untuk membuktikan kebenaran jarak yang cenderung mendekati
dari variabel visa dan wilayah dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel 4.8 Jarak Euclid antar variabel
kriminalitas dengan wilayah
|
Wilayah
|
Jenis Kriminalitas
|
||||||||
|
Curanmor
|
Perampokan
|
Penipuan
|
Perjudian
|
Pemerkosaan
|
Pembunuhan
|
Penyelundupan
|
Pecopetan/Penjambretan
|
Lainnya
|
|
|
Surabaya Pusat
|
0.05
|
0.10
|
0.12
|
0.15
|
0.20
|
0.20
|
0.19
|
0.10
|
0.15
|
|
Surabaya Timur
|
0.04
|
0.09
|
0.11
|
0.14
|
0.19
|
0.19
|
0.18
|
0.09
|
0.13
|
|
Surabaya Barat
|
0.02
|
0.04
|
0.05
|
0.08
|
0.13
|
0.13
|
0.12
|
0.03
|
0.08
|
|
Surabaya Utara
|
0.03
|
0.03
|
0.04
|
0.07
|
0.13
|
0.12
|
0.11
|
0.02
|
0.07
|
|
Surabaya
Selatan
|
0.05
|
0.01
|
0.02
|
0.05
|
0.11
|
0.10
|
0.09
|
0.01
|
0.05
|
Tabel 4.8 menunjukkan
nilai yang mendekati nilai nol atau kurang dari 1 memiliki jarak yg semakin
dekat. Pada wilayah Surabaya Pusat, Surabaya Timur dan Surabaya Barat dengan
curanmor memiliki jarak sebesar 0,05, 0,04 dan 0,02 wilayah Surabaya Utara dengan
pencompetan atau penjambretan memiliki jarak sebesar 0,02 dan untuk wilayah
Surabaya Selatan dengan perampokan memiliki jarak sebesar 0,01.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1
Kesimpulan
Kesimpulan yang
didapat berdasarkan analisis yang telah dilakuan adalah :
1.
Karakteristik
wilayah Surabaya Selatan yang memiliki prosentase sangat besar dalam tingkat
kecelakaan lalu lintas. Nilai prosentase yang ditunjukkan masing-masing untuk
meninggal dunia sebesar 31%, luka berat sebesar 34% dan luka ringan sebesar
31%. Dari ketiga tingkat kecelakaan lalu lintas tersebut untuk wilayah Surabaya
selatan yang begitu sangat mendominasi dalam prosentase tertinggi adalah luka
berat dengan prosentasenya sebesar 34%.
2.
Karakteristik
wilayah Surabaya Selatan memiliki prosentase tertinggi terjadinya curanmor
yaitu sebesar 25% sedangkan yang terendah yaitu Surabaya Pusat sebesar 15%,
wilayah Surabaya Timur dan Surabaya Selatan memiliki prosentase tertinggi yaitu
sebesar 26% sedangkan yang terendah yaitu Surabaya Pusat sebesar 13%, wilayah
Surabaya Timur memiliki prosentase tertinggi terjadinya penipuan yaitu sebesar
27% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Pusat yaitu sebesar 14%,
wilayah Surabaya timur memiliki prosentase tertinggi terjadinya perjudian yaitu
sebesar 28% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Barat sebesar 14%,
wilayah Surabaya Pusat memiliki prosentase tertinggi terjadinya pemerkosaan
yaitu sebesar 25% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Barat dan
Selatan yaitu sebesar 16%, wilayah Surabaya Selatan memiliki prosentase
tertinggi terjadinya pembunuhan yaitu sebesar 27% sedangkan yang terendah yaitu
wilayah Surabaya Pusat yaitu sebesar 11%, wilayah Surabaya Timur memiliki
prosentase tertinggi terjadinya penyelundupan yaitu sebesar 29% sedangkan yang
terendah yaitu wilayah Surabaya Barat yaitu sebesar 11%, wilayah Surabaya
Selatan memiliki prosentase tertinggi terjadinya pencopetan/penjambretan yaitu
sebesar 25% sedangkan yang terendah yaitu wilayah Surabaya Pusat yaitu sebesar
14% dan terakhir wilayah Surabaya Timur memiliki prosentase tertinggi
terjadinya lainnya yaitu sebesar 24% sedangkan yang terendah yaitu wilayah
Surabaya Pusat dan Utara yaitu sebesar 17%.
3.
Dari
hasil analisis untuk tingkat kecelakaan diperoleh untuk wilayah Surabaya Pusat
cenderung berdaekatan dengan titik meninggal dunia, sedangkan untuk titik
wilayah Suarabaya Selatan, Surabaya Timur dan Surabaya Barat cenderung
berdekatan dengan titik luka berat. Pada titik wilayah utara memiliki
kecenderung berdekatan dengan titik luka ringan.
4.
Dari
hasil analisis untuk kriminalitas diperoleh untuk wilayah Surabaya Pusat
cenderung berdekatan dengan titik Pemerkosaan, sedangkan untuk titik wilayah
Surabaya Selatan cenderung berdekatan dengan titik perampokan, penipuan dan
pembunuhan. Pada titik wilayah Surabaya Utara dan wilayah Surabaya Timur
memiliki kecenderungan berdekatan dengan titik perjudian dan penyelundupan.
Pada titik wilayah Surabaya Barat memiliki kecenderungan berdekatan dengan
titik lainnya, pencopetan dan curanmor.
5.2 Saran
Pada karakteristik dapat dilihat bahwa tingkat terjadinya kecelakaan lalu
lintas yang paling besar adalah wilayah Surabaya Selatan untuk jenis
kriminalitas sendiri wilayah Surabaya Timur merupakan inyensitas yang sering
terjadinya tindak kriminalitas mulai dari curanmor, perampokan, perjudian dan
sebagainya sehingga perlu rekomendasi untuk petugas kepolisian setempat agar
menerapkan sistem penjagaan yang ketat untuk daerah-daerah tersebut sekaligus
untuk rekomendasi kepada masyarakat bahwa daerah-daerah tersebut rawan
terjadinya kecelakaan dan kriminalitas.